Batang Menjadi petugas pembawa baki merupakan posisi yang diidam-idamkan oleh seluruh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), meskipun penuh tantangan. Selain itu perlu persiapan matang bahkan latihan fisik yang menguras keringat.
Batang Menjadi
petugas pembawa baki merupakan posisi yang diidam-idamkan oleh seluruh Pasukan
Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), meskipun penuh tantangan. Selain itu
perlu persiapan matang bahkan latihan fisik yang menguras keringat.
Dari 75 Paskibraka,
terpilih dua siswi terbaik yang diamanati membawa Sang Saka Merah Putih.
Mereka adalah Nayla
Dhini Ramadhani 16 tahun siswi SMAN 1 Subah yang membawakan bendera Duplikat
Sang Saka Merah Putih dan Haliya Zahira Fuadia 16 tahun siswi SMA Pondok Modern
Selamat 2 Subah yang membawa bendera Pusaka Merah Putih sebagai pendamping.
Nayla Dhini Ramadhani
mengungkapkan kebanggaannya karena beruntung mendapat kesempatan sebagai
pembawa baki Sang Saka Merah Putih.
“Senang bisa jadi
pembawa baki karena menanggung tanggung jawab yang luar biasa besarnya. Kalau
benderanya sampai salah itu tanggung jawab pembawa baki dan posisi ini sangat
diidamkan semua Paskibraka, makanya saya bangga sekali,†katanya, usai menjalankan
tugasnya, saat ditemui di Hotel Dewi Ratih, Kabupaten Batang, Rabu (17/8/2022).
Ia menceritakan bahwa
menjadi Paskibraka sudah diimpikannya sejak dahulu karena tertarik di bidang
baris berbaris.
Remaja yang hobi
bernyanyi dan mendengarkan lagu pop ini mengaku selama dua pekan terus berlatih
keras untuk lolos sebagai pembawa baki.
“Latihan fisik seperti
push up, sit up, lari untuk pemanasan. Tapi ada latihan khusus yang wajib rutin
dilakukan adalah push up sebanyak 50 kali sehari, agar tangan kuat ketika
menyangga baki,†jelasnya.
Untuk menjaga stamina
ia rutin mengonsumsi vitamin, makan teratur dan minum jamu kunyit asam.
Tak hanya bakat di
bidang tarik suara, potensi lain juga ditunjukkan di bidang akademis.
“Beberapa bulan lalu
mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Batang,†ungkapnya.
Sementara Haliya Zahira
Fuadia mengutarakan, membutuhkan keberanian dan mental yang kuat karena tidak
semua anggota Paskibraka terpilih menjadi pembawa baki.
“Awalnya memang ragu,
mampu membawa baki yang cukup berat. Akhirnya setelah latihan terus,
alhamdulillah bisa,†tuturnya.
Seleksi dilakukan
kepada anggota Paskibraka yang dirasa cakap. Namun setelah diseleksi, ternyata hanya
Haliya dan Nayla yang lolos sebagai petugas pembawa baki.
Di bidang akademis pun
ia tak kalah berpotensinya dengan rekannya sesama pembawa baki, Nayla.
“Sejak kelas X, masuk
peringkat 3 besar. Dan selalu mengikuti Olimpiade Sejarah Indonesia, alhamdulillah
mendapat medali perunggu,†terangnya.
Ia berkeinginan menjadi
Paskibraka telah diidamkannya sejak kecil. Untuk menjaga stamina dengan rutin
mengonsumsi vitamin, buah dan menghindari makanan pedas.
“Sejak di pondok saya
terus berlatih untuk membanggakan kedua orang tua, dengan berhasil menjadi
Paskibraka,†ujar dia.
Sementara itu, Kepala
Disparpora Batang Yarsono mengatakan, latihan fisik telah dilakukan selama 14
hari serta diimbangi dengan doa bersama sebelum pelaksanaan.
“Alhamdulillah
adik-adik anggota Paskibraka yang terpilih dari jenjang SMA/SMK/MA berhasil
menjalankan tugas dengan baik dan lancar,†sanjungnya.
Ia menerangkan, seluruh
anggota Paskibraka yang direkrut sejumlah 76 anak.
“Satu di antaranya
lolos menjadi anggota Paskibraka di tingkat Provinsi Jawa Tengah bernama Efi
Listiyana siswi SMKN 1 Batang,†ungkapnya.
Bentuk dukungan kepada
adik-adik Paskibraka akan diberikan beasiswa pendidikan dari Disdikbud.
“Selama menjalani
pelatihan mereka dididik secara fisik maupun mental, dan di masa depan akan
memiliki karakter yang baik,†tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)