Batang - Stunting atau bayi dengan gizi buruk di Kabupaten Batang memang jumlahnya cukup banyak, dengan presentasenya mencapai 8 persen, namun demikian kasus ini juga terjadi di semua daerah bukan saja di Kabupaten Batang.
Hal ini dikatakan Bupati Batang Wihaji saat membuka vertikal Resque Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang di Obyek Wisata Pantai Sigandu, Kabupaten Batang, Sabtu (21/9/2019).
"Oleh karena itu, Pemerintah pusat, Provinsi hingga daerah untuk melakukan pengawalan terhadap kasus tersebut agar ada tidak terjadi lagi," ujarnya.
Ia juga menjelaskan penyebab stunting di Batang karena rata - rata ibu hamil kurang asupan gizi, karena ada tradisi atau mitos yang selama ini menghantui ibu hamil dan ibu pasca melahirkan dan faktor ekonomi juga mempengaruhi.
"Ada tradisi atau mitos yang diyakini masyarakat yang terkadang tidak baik untuk kesehatan, yakni waktu hamil atau pasca melairkan dilarang makan - makanan yang justru menjadi asupan gizi, seperti ikan laut, telur dan sebagainya, padahal ibu hamil dan ibu menyesui jelas harus makanan yang bergizi," jelasnya.
Bupati pun memgimbau kepada Dinas Kesehatan, Posyandu maupun lembaga lainnya untuk gencar melakukan sosialiasi dampak buruk stunting.
"Saya perintahkan pada bidan desa mengawal betul ibu hamil dengan nginceng wong meteng, pastikan asupan gizi tercukupi, laporkan ke Puskesmas apabila mendapatkan ibu hamil atau bayi kurang gizi, kami pastikan Pemkab akan bantu," terangnya.
Bupati meminta jangan ada masyarakat atau ibu hamil yang kekurangan gizi, apalagi sampai ada yang tidak bisa makan karena tidak ada yang dimakan. (Humas Batang, Jateng/Edo)