Batang - Kementerian Kebudayaan akhirnya menetapkan Batik Rifa'iyah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), di Jakarta 7 Oktober 2025 lalu. Pengakuan tersebut, kini kian memperkuat Miftakhutin selaku pegiat Batik Rifa'iyah yang intens melestarikan karya para leluhur.
Batang - Kementerian Kebudayaan akhirnya menetapkan Batik Rifa'iyah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb), di Jakarta 7 Oktober 2025 lalu. Pengakuan tersebut, kini kian memperkuat Miftakhutin selaku pegiat Batik Rifa'iyah yang intens melestarikan karya para leluhur.
“Batik
Rifa'iyah sebetulnya telah lama ada, namun baru bisa bangkit lagi, dan jadi
buah bibir di masyarakat Batang dan mancanegara. Kami segera berkoordinasi
dengan berbagai pihak, agar pengakuan ini mengembalikan kejayaan Batik
Rifa'iyah seperti tempo dulu,†katanya saat ditemui di Desa Kalipucang Wetan,
Kabupaten Batang, Kamis (16/10/2025).
Pengakuan
terhadap Batik Rifa'iyah sebagai Warisan Budaya Takbenda, menjadi penyemangat
bagi perajin untuk mempertahankannya, agar tidak punah.
“Karena
tantangan terbesar kami adalah regenerasi, maka kami mulai berupaya supaya
memunculkan tunas-tunas baru perajin Batik Rifa'iyah di Desa Wisata Kalipucang
Wetan ini,†jelasnya.
Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang menanggapi positif, pengakuan
Batik Rifa'iyah sebagai Warisan Budaya Takbenda. Selain agar tetap lestari,
predikat tersebut juga sebagai daya tarik untuk meregenerasi pembatik lewat,
wacana dijadikan muatan lokal di jenjang SD hingga SMP.
Sementara
itu, Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoro Sudibyo berupaya mempertahankan
predikat dan pengakuan yang telah diraih Batik Rifa'iyah sebagai WBTb, dengan
melakukan pengenalan kepada para pelajar.
Ia
meyakini banyak metode untuk mempertahankan keaslian Batik Rifa'iyah dengan
menjadikannya sebagai mata pelajaran muatan lokal di jenjang SD dan SMP di
Kabupaten Batang.
“Sangat
bisa nantinya seni Batik Rifa'iyah dijadikan mulok di sekolah-sekolah, apalagi
sejak bertahun-tahun lalu, Batang juga dikenal dengan pembatiknya yang khas.
Nanti dari SD sudah bisa mengikuti mulok, karena belajar membatik memang harus
sejak dini,†ujar dia.
Hingga saat ini mulok yang intens diikuti seluruh pelajar dari jenjang SD dan SMP, yakni Bahasa Jawa. Rencananya setelah didiskusikan dengan bidang terkait, dimungkinkan dapat dijadikan sebagai mulok di seluruh SD hingga SMP se-Kabupaten Batang. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)