Yogyakarta - Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan Ford Foundation dan NGO Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya, menggelar Workshop Penajaman Tema Strategis Wanatani. Hal ini untuk Penguatan Perhutanan Sosial yang Inklusif terhadap Perempuan.
Yogyakarta - Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan Ford Foundation dan NGO Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya, menggelar Workshop Penajaman Tema Strategis Wanatani. Hal ini untuk Penguatan Perhutanan Sosial yang Inklusif terhadap Perempuan.
Tujuannya
untuk memperkuat pendekatan responsif gender dalam program Perhutanan Sosial,
khususnya dalam mendorong keterlibatan perempuan dalam kegiatan wanatani
(agroforestry). Serta peningkatan akses terhadap lahan, maupun pengembangan
kewirausahaan sosial yang berkelanjutan.
Deputi
Manajemen Pengetahuan dari PUPUK Surabaya Feri Zulkifli menyampaikan, kegiatan
ini merupakan langkah strategis untuk mendorong kolaborasi lintas sektor dan
menguatkan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya hutan.
“Kegiatan
ini untuk mendorong perempuan lebih aktif dalam pengelolaan perhutanan sosial,
menjadi pelaku utama dalam rantai nilai kehutanan sosial yang berkelanjutan,†katanya
saat ditemui di Hotel Porta by Ambarrukmo, Yogyakarta, Kamis (25/9/2025).
Kasubdit
Kehutanan Kemendagri Dyah Sih Irawati menegaskan, pentingnya memasukkan
perspektif gender ke dalam dokumen perencanaan daerah.
“Tujuannya
agar perencanaan dan penganggaran responsif gender dapat diintegrasikan ke
dalam dokumen perhutanan sosial, serta mendorong replikasi praktik kelompok
perempuan,†jelasnya.
Kabid
Kehutanan Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Yussi Nadia menyoroti
pentingnya perhatian terhadap hutan adat.
“Banyak
hal yang bisa dimasukkan ke dalam RKPS, termasuk hutan adat yang perlu
diperhatikan produktivitasnya melalui pendekatan yang terencana dan
partisipatif,†terangnya.
Sementara
itu, Sekretaris Baperida Kabupaten Batang Bagus Pambudi menekankan, pentingnya
indikator pembangunan.
“Perhutanan
sosial harus dimasukkan dalam Indikator Utama Pembangunan karena bersifat
mandatory, memiliki target jelas, dan akan dievaluasi tahunan,†tegasnya.
Kabupaten
Batang, disebut sebagai salah satu lokasi program utama dalam pengembangan
perhutanan sosial inklusif. Saat ini terdapat lima Kelompok Usaha Perhutanan
Sosial (KUPS) aktif yang menjadi contoh praktik baik pengelolaan wanatani
berbasis pemberdayaan perempuan.
“Kelima
KUPS tersebut terdiri dari Desa Pesantren, Sodong, Bismo, Tombo dan Silurah.
Kelima desa ini menjadi model awal dalam penguatan kapasitas kelompok perempuan
dalam meningkatkan nilai tambah komoditas hutan dan pertanian melalui
pendekatan wanatani berkelanjutan,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Sri
Rahayu)