Batang - Bahasa Ibu yang sejatinya merupakan bahasa keseharian anak, saat ini dikhawatirkan mengalami kepunahan diakibatkan lingkungan pergaulan yang beragam. Maka, Disdikbud Batang berupaya mempertahankan bahasa daerah lewat even Festival Tunas Bahasa Ibu, bagi pelajar SMP se-Kabupaten Batang.
Batang - Bahasa Ibu yang sejatinya merupakan bahasa keseharian anak, saat ini dikhawatirkan mengalami kepunahan diakibatkan lingkungan pergaulan yang beragam. Maka, Disdikbud Batang berupaya mempertahankan bahasa daerah lewat even Festival Tunas Bahasa Ibu, bagi pelajar SMP se-Kabupaten Batang.
Kepala
Disdikbud Batang Bambang Suryantoro Sudibyo mengapresiasi, digelarnya Festival
Tunas Bahasa Ibu karena bermanfaat bagi anak agar memiliki karakter positif.
Menurutnya, dengan anak membiasakan diri berturut kata menggunakan bahasa ibu
yakni bahasa Jawa, akan menumbuhkan karakter rendah hati.
“Festival
ini berdampak positif karena akan menjadikan karakter anak semakin baik di masa
depan,†katanya, saat meninjau Festival Tunas Bahasa Ibu, di SMPN 1 Kandeman,
Kabupaten Batang, Kamis (18/9/2025).
Di
sisi lain, Bambang mengakui di tengah kemajuan zaman, ada kerawanan hilangnya
bahasa ibu, namun hal tersebut tak perlu dicemaskan karena Disdikbud berupaya
mempertahankan lewat ragam kegiatan edukatif.
Bambang
juga menyebutkan, panitia telah menyiapkan 14 cabang lomba, yang seluruhnya
menggunakan bahasa Jawa di antaranya, geguritan, mendongeng, dagelan, sesorah
dan lainnya. Ketua panita, Yaimatul Imam menerangkan, tujuan utamanya agar anak
mampu melestarikan kebudayaan Jawa, sehingga tidak tergerus arus budaya asing.
“Antusiasme
anak sangat tinggi karena diikuti 468 siswa dari 60 SMP se-Kabupaten Batang.
Semoga setelah anak mengikuti lomba ini, mereka tidak mengesampingkan bahasa
Jawa, tapi justru lebih mencintai dan menerapkannya di keseharian,†harapnya.
Diakuinya,
prestasi anak didik dari Kabupaten Batang di tiap even Festival Tunas Bahasa
Ibu tingkat Jateng, sudah cukup baik, yakni peringkat 2.
“Targetnya
semoga mereka yang lolos ke provinsi bisa memberikan prestasi yang makin baik
bagi Kabupaten Batang,†terangnya.
Salah
satu peserta, Bening Aura siswi kelas VIII SMPN 1 Subah mengaku selalu
membiasakan bahasa Jawa ketika bercakap-cakap dengan keluarga, sehingga ketika
mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu berjalan lancar. Untuk memperkuat karakter
dalam cerita "Kancil Si Mata Sekti" ia membuat properti berupa buku,
tas berbahan karung dan jembatan kayu mini.
“Kisahnya
tentang pentingnya ilmu pengetahuan, jadi Si Kancil ini berusaha membantu
teman-teman membuat kretek atau jembatan agar seluruh hewan penghuni Alas Roban
bisa menyeberangi sungai untuk mengambil makanan. Pesannya jangan cuma
memikirkan makanan saja, tapi harus rajin belajar agar menembah pengetahuan,â€
ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)