Batang - Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah melakukan kunjungan kerja tematik dengan fokus isu pengangguran ke Pemerintah Kabupaten Batang. Dalam pertemuan itu, anggota dewan menyoroti pentingnya pengawasan terpadu dan program khusus untuk menekan angka pengangguran di daerah.
Batang - Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah melakukan kunjungan kerja tematik dengan fokus isu pengangguran ke Pemerintah Kabupaten Batang. Dalam pertemuan itu, anggota dewan menyoroti pentingnya pengawasan terpadu dan program khusus untuk menekan angka pengangguran di daerah.
Anggota
Komisi B DPRD Jateng dari Fraksi PPP Soleha Kurniawati menegaskan, bahwa
persoalan pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Jawa Tengah.
Berdasarkan data BPS, angka pengangguran di provinsi ini mencapai 4,33 persen
atau sekitar 950 ribu orang.
“Kami
sepakat bahwa bonus demografi harus dikelola dengan baik. Kalau tidak, bukan
menjadi berkah, tapi bisa berubah menjadi bencana sosial,†katanya saat ditemui
di Aula Bupati, Kabupaten Batang di Aula Bupati Batang, Selasa (16/9/2025).
Komisi
B DPRD Jateng menyambut positif strategi yang dijalankan Pemkab Batang dan
menilai pendekatan berbasis sumber daya alam lintas sektoral menjadi langkah
tepat.
“Melihat
paparan Bupati Batang Ini tentu menjadi bahan berharga yang bisa direplikasi di
daerah lain di Jawa Tengah,†tuturnya.
Sementara
itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyampaikan, Kabupaten Batang memiliki
jumlah penduduk 838.187 jiwa, dengan 69,16 persen di antaranya masuk usia
produktif. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi daerah.
“Kalau
tidak dikelola dengan baik, usia produktif yang besar ini bisa menjadi bencana
sosial. Tapi jika dimaksimalkan, akan menjadi mesin utama pembangunan,†jelasnya.
Dijelaskannya,
Pemkab Batang menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan pengangguran yang saat
ini tercatat 28.516 jiwa, mayoritas lulusan SMA dan SMK.
“Beberapa
langkah yang ditempuh dari Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Industropolis Batang, yang ditargetkan menampung 32 pabrik hingga 2027 dengan
serapan tenaga kerja 80.000125.000 jiwa,†jelasnya.
Kemudian,
ada Program DAKER (Pelatihan dan Penempatan Kerja Terintegrasi), yang
menargetkan pelatihan 2.000 orang pada 2025 dan 5.000 orang pada 2026. Hingga
September ini, 1.000 peserta telah dilatih dan seluruhnya terserap kerja.
“Selanjutnya,
Fokus sektor agraris dan UMKM, termasuk pemberdayaan peternak lokal untuk
mendukung suplai susu ke Nestlé Batang, serta penguatan batik sebagai sektor
budaya sekaligus ekonomi dan Pelatihan berbasis sumber daya alam menggunakan
APBD, mencakup perkebunan, hortikultura, hingga peternakan,†terangnya.
Fais
juga menyebutkan, selain itu Pemkab Batang juga menyiapkan regulasi insentif
pajak bagi UMKM atau industri yang menyerap lebih dari 70 persen tenaga kerja
lokal, dengan potongan hingga 50 persen.
Ia
menegaskan bahwa penurunan angka pengangguran membutuhkan dukungan lintas
sektor.
Diharapkan,
Komisi B DPRD Jateng dan Pemerintah Provinsi Jateng mendukung agar pengangguran
di Kabupaten Batang bisa ditekan secara maksimal. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)