Batang - Kesenian rakyat Babalu yang terdiri dari unsur seni tari, musik dan teater khas Kabupaten Batang kembali dipentaskan secara khusus oleh para generasi muda. Pementasan kali ini sangat istimewa karena menjadi salah satu syarat agar terdata sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Batang - Kesenian rakyat Babalu yang terdiri dari unsur seni tari, musik dan teater khas Kabupaten Batang kembali dipentaskan secara khusus oleh para generasi muda. Pementasan kali ini sangat istimewa karena menjadi salah satu syarat agar terdata sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Kesenian
rakyat Babalu yang telah ada sejak 1930-an, digunakan para pejuang Kabupaten
Batang menjadi media untuk melawan penjajah Belanda. Di balik keunikan kesenian
tersebut, para pejuang Kabupaten Batang menyusun siasat untuk mampu memberangus
para penjajah, melalui tak tik yang dibalut pementasan.
Sutradara
dan Penulis Lakon Kesenian Babalu Ahmad Zaenuri mempersiapkan pementasan kali
ini dengan maksimal karena demi Babalu mendapat pengakuan dari pemerintah
sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Prosesnya perwakilan Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Jateng hadir untuk menyaksikan dan menilai langsung selama proses
pementasan.
“Usai
pementasan, mereka mengajukan beberapa pertanyaan terkait eksistensi seni
Babalu di Batang hingga regenerasi pemain, untuk melestarikan kebudayaan
leluhur. Setelah proses penilaian dirasa cukup dan layak, maka akan diajukan ke
Kementrian Kebudayaan RI sebagai WBTB,†katanya, saat ditemui di Batang Teras
Pandawa, Kabupaten Batang, Kamis (24/7/2025).
Untuk
memastikan, Babalu adalah kesenian asli dari leluhur Batang, atau hanya
kesenian kontemporer, maka harus didukung dengan pementasan.
“Setelah
ada pengakuan dengan dimasukkan sebagai WBTB, harapannya masyarakat akan makin
mencintai dan ikut melestarikan karena Babalu adalah asli dari Kabupaten
Batang,†jelasnya.
Tim
Penggali Kesenian Babalu, Sugito Hadisastro menggali data dari pelaku seni
maupun penikmatnya kala itu, melalui Ibu Sumiyati dan Bapak Suprayitno selama
kurun waktu beberapa tahun.
“Dari
penggalian tersebut diketahui kalau Babalu merupakan kesenian yang lahir dari
semangat pejuang Batang untuk menyusun siasat perang saat Agresi Militer I dan
II, supaya tidak ketahuan kalau sebenarnya pementasan itu hanya strategi saja,â€
tuturnya.
Untuk
memperkuat Babalu dijadikan WBTB, para seniman secara intens mengenalkan kepada
generasi muda lewat pentas keliling dan even yang digelar Dewan Kesenian Daerah
setempat. Demikian pula oleh Disdikbud Batang, Babalu telah dijadikan muatan
lokal di jenjang SD hingga materi perkuliahan seni tari di Unnes, bahkan para
mahasiswa pun turut menggali informasi untuk dijadikan bahan penyusunan
skripsi.
Usai
menyaksikan langsung pementasan Babalu, Analis Warisan Budaya Disdikbud Jateng
Iwuk Tri Kiswarsiki mengaku takjub dengan penampilan para pelaku seni.
Rencananya penampilan mereka akan dijadikan salah satu syarat untuk pengajuan
WBTB dari Jawa Tengah ke Kementerian Kebudayaan RI.
“Dari
hasil penilaian dan pengamatan tadi Babalu ini tersirat nilai dan pesan dari
pemerintah yang tersampaikan ke publik lewat kesenian. Kriteria supaya lolos
ada substansi Nasional, telah ada lebih dari 50 tahun, maka tepat Babalu
diusulkan karena sudah ada antara 1930 hingga 1940-an,†ujar dia.
Tahun
ini Babalu akan dilakukan pencatatan melalui aplikasi Data Pokok Kebudayaan
(Dapobud), lalu tahun 2026 pengusulan penetapan oleh provinsi. Di Jawa Tengah,
Disdikbud telah mendata sebanyak 165 seni, budaya dan kuliner khas yang lolos
sebagai WBTB. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)