Batang - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Batang menggelar diskusi yang berfokus pada pencegahan dini konflik paham keagamaan Islam. Yang menghasilkan rekomendasi untuk intens menggelar forum diskusi agar mencegah timbulnya konflik keagamaan internal maupun eksternal sedini mungkin.
Batang - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Batang menggelar diskusi yang berfokus pada pencegahan dini konflik paham keagamaan Islam. Yang menghasilkan rekomendasi untuk intens menggelar forum diskusi agar mencegah timbulnya konflik keagamaan internal maupun eksternal sedini mungkin.
Forum
diskusi tersebut diikuti sejumlah perwakilan organisasi kemasyarakatan seperti
MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Rifa'iyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia
dan Sarikat Islam. Yang seluruhnya mendiskusikan agar langkah-langkah
pencegahan dan antisipasi munculnya konflik keagamaan yang disebabkan berbagai
faktor.
Kepala
Kantor Kemenag Batang Mahrus mengatakan, diskusi tersebut menghasilkan
rekomendasi ke pihak Kemenag Jateng dan pusat. Yakni secara intensif akan
menggelar diskusi rutin lintas agama atau kepercayaan.
“Diskusi
itu akan digelar tiap beberapa bulan sekali, untuk merawat perbedaan sehingga
tidak memunculkan konflik yang berkembang liar di masyarakat. Karena telah
tertangani sedini mungkin oleh forum diskusi lintas agama maupun kepercayaan,†katanya,
saat ditemui di Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu Batang, Kabupaten Batang, Kamis
(3/7/2025).
Menyikapi
rencana pembangunan sejumlah tempat ibadah di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Batang, Mahruz berencana mendiskusikannya bersama Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB). Hal ini menjadi penting, agar setelah berdirinya tempat ibadah itu,
tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.
“Karena
mayoritas pekerja di KEK memiliki kepercayaan yang beragam, tidak akan
menimbulkan konflik keagamaan. Sebab potensi konflik akan muncul ketika
pendirian tempat ibadah yang berbeda dilakukan di komunitas satu agama
tertentu,†jelasnya.
Ia
mengimbau, tiap kecamatan turut berpartisipasi memberikan data yang valid agar
mengetahui potensi konflik sekecil apapun. “Supaya nantinya bisa dilakukan
mitigasi agar tidak berkembang luas,†tegasnya.
Sementara
itu, Ketua MUI Batang KH. Zainul Iroqi tidak menampik konflik dapat terjadi di
berbagai lingkungan, namun tergantung kedewasaan dan keluasan ilmu dari SDM
yang menaunginya. Apabila memiliki pemimpin yang berwawasan dan jaringan
pertemanan yang luas, konflik seberat apapun dapat diredam.
“Sebuah
konflik kalau kita bisa mengelola dengan baik justru menjadi pemicu kita untuk
meningkatkan kualitas diri,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)