Batang - Terinspirasi dari Surat Paus Fransiskus kala itu, tentang bumi sebagai rumah bersama, Gereja Katolik Santo Yusup Batang menggelar Sarasehan Lingkungan Hidup Lintas Iman. Diskusi yang menghadirkan jajaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Kelompok Penghayat Kepercayaan, merupakan upaya penguatan prinsip meminimalisir plastik.
Batang - Terinspirasi dari Surat Paus Fransiskus kala itu, tentang bumi sebagai rumah bersama, Gereja Katolik Santo Yusup Batang menggelar Sarasehan Lingkungan Hidup Lintas Iman. Diskusi yang menghadirkan jajaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Kelompok Penghayat Kepercayaan, merupakan upaya penguatan prinsip meminimalisir plastik.
Dalam
diskusi tersebut Gereja Santo Yusup diwakili oleh Romo Paskalis Tejo Wibowo
yang menekankan, umat lintas iman bersama menjaga bumi, tidak hanya sebagai
tempat tinggal. Tetapi juga sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, ikut menjaga,
salah satunya dengan meminimalisir penggunaan plastik.
“Aksi
nyatanya jemaat secara bertahap mulai menerapkan pemilahan sampah kering
menjadi barang tepat guna dan atau dijual ke pengepul untuk diolah kembali.
Serta memilah sampah basah masuk ke komposter maupun biopori di rumah-rumah
jemaat Desa Pasekaran dan Kalisalak,†katanya, usai sarasehan di serambi Gereja
Santo Yusup Batang, Kabupaten Batang, Rabu (25/6/2025).
Aksi
nyata lainnya, jemaat dibiasakan untuk menerapkan pola zero plastik dan
steroform, saat peribadatan, yakni dengan tidak lagi mengonsumsi air mineral
kemasan.
“Kami
biasakan jemaat membawa wadah minum dari rumah, bahkan ada denda berupa doa
khusus tiap kali ada jemaat yang membawa makanan berwadah plastik,†jelasnya.
Sementara
itu, Ketua FKUB Batang H. Subkhi membenarkan, tiap agama memiliki pesan untuk
bersama menjaga lingkungan dengan senantiasa menggali dasar agama demi
kelestarian alam.
Dalam
ajaran Islam jelas manusia diperintahkan untuk menjaga kebersihan dengan mulai
menerapkan mengolah barang yang tidak terpakai menjadi sesuatu yang memiliki
manfaat.
“Aksi
nyata sudah mulai diterapkan di kelompok majelis taklim hingga kelompok rukun
tetangga lintas agama yang memilah sampah kering dan basah, salah satunya di
Tersono,†ujar dia.
Sampah
kering termasuk plastik, oleh kaum ibu dikumpulkan tiap pekannya, lalu
ditimbang sebelum diserahkan ke pengepul hingga menghasilkan pundi-pundi
rupiah. (MC Batang, Jateng/Heri/Sri Rahayu)