Batang - Suara gamelan mengalun lembut dari halaman Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Batang. Lengkap dengan sinden dan penampilan ketoprak, suasana sekolah seolah berubah menjadi panggung kebudayaan Jawa yang megah. Festival Gelar Budaya III tahun 2025 kembali digelar, menegaskan komitmen SMPN 4 Batang sebagai sekolah budaya yang konsisten menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur kepada siswanya.
Batang - Suara gamelan mengalun lembut dari halaman Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Batang. Lengkap dengan sinden dan penampilan ketoprak, suasana sekolah seolah berubah menjadi panggung kebudayaan Jawa yang megah. Festival Gelar Budaya III tahun 2025 kembali digelar, menegaskan komitmen SMPN 4 Batang sebagai sekolah budaya yang konsisten menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur kepada siswanya.
Festival
yang telah memasuki tahun ketiga ini menjadi ajang unjuk kreativitas sekaligus
ujian praktik seni budaya bagi siswa kelas 9. Seluruh siswa diwajibkan terlibat
aktif dalam proses kreatif, mulai dari memilih cerita, menyusun naskah, hingga
menentukan siapa yang akan menjadi pemain ketoprak, penabuh gamelan, dan
sinden.
“Ada
tujuh kelas, masing-masing menampilkan pertunjukan selama kurang lebih 40
menit. Setiap kelas punya cerita sendiri yang mereka pilih, dan penampilan
mereka benar-benar hasil kerja tim siswa sendiri. Guru seni hanya
memfasilitasi,†kata Kepala SMPN 4 Batang Sri Mulyatno saat ditemui di lapangan
SMPN 4 Batang, Kabupaten Batang, (31/5/2025).
Dalam
pentas tersebut, sekitar 14 siswa memainkan gamelan, sementara empat hingga
lima siswa menjadi sinden, dan sisanya berperan dalam lakon ketoprak.
Menariknya, seluruh rangkaian acara menggunakan Bahasa Jawa, termasuk pembawa
acaranya (pranatacara), yang berasal dari siswa kelas 7 dan 8. Kegiatan ini
tidak hanya menjadi sarana belajar, tetapi juga bentuk nyata pelestarian
budaya.
“Karena
ini ujian praktik mata pelajaran seni budaya, maka semua murid harus ikut.
Materi pelajaran seni di kelas 9 itu, 90 persen praktik dan 10 persen teori.
Lewat kegiatan ini, kami ingin menanamkan warisan budaya luhur dan rasa cinta
terhadap budaya sendiri,†jelasnya.
Lebih
dari sekadar kegiatan sekolah, Festival Gelar Budaya ini menjadi wujud
kolaborasi antara sekolah, siswa, orang tua, dan komite sekolah. Dukungan penuh
dari paguyuban orang tua murid menjadi fondasi utama terselenggaranya acara
ini, mengingat keterbatasan anggaran sekolah.
“Ini
bagian dari upaya mewujudkan sekolah ramah anak. Di dalamnya, siswa, orang tua,
dan sekolah terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi
kegiatan,†imbuhnya.
Dukungan
pun datang dari Wakil Bupati Batang Suyono, yang hadir langsung dan memberikan
apresiasi tinggi atas upaya SMPN 4 Batang mempertahankan budaya bangsa di
tengah arus modernisasi.
“Saya
sangat apresiasi, karena ini langkah nyata menjaga seni budaya yang mulai
ditinggalkan. SMPN 4 Batang layak menjadi contoh. Kegiatan seperti ini harus
didukung oleh Disdikbud dan Pemkab Batang agar tetap lestari,†terangnya.
Menurutnya,
tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus budaya luar yang mudah diakses
melalui gawai, yang secara perlahan menggeser minat anak-anak terhadap budaya
lokal.
“Kalau
tidak ada yang nguri-uri, budaya kita bisa hilang. Jangan sampai anak-anak kita
hanya mengenal budaya asing dari layar gawai. Saya harap SMPN 4 Batang tidak
bosan mempertahankan budaya ini,†tegasnya.
Pemkab
Batang melalui Disdikbud dan Dewan Kesenian Daerah pun berkomitmen memberikan
dukungan penuh terhadap program-program pelestarian budaya seperti yang
dilakukan SMPN 4 Batang.
“Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan pada budaya, SMPN 4 Batang tak hanya menjadi sekolah budaya, tetapi juga pelopor dalam menjaga denyut tradisi di tengah kemajuan zaman,†pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)