Batang Harapan baru muncul bagi keluarga dan anak-anak di Kabupaten Batang. Pemerintah tengah mempersiapkan program skrining talasemia secara gratis di seluruh puskesmas. Program ini bertujuan mendeteksi dini penyakit genetik yang bisa mengubah hidup seorang anak dan bahkan menentukan masa depannya sejak dini.
Batang Harapan baru muncul bagi keluarga dan anak-anak di Kabupaten Batang. Pemerintah tengah mempersiapkan program skrining talasemia secara gratis di seluruh puskesmas. Program ini bertujuan mendeteksi dini penyakit genetik yang bisa mengubah hidup seorang anak dan bahkan menentukan masa depannya sejak dini.
Talasemia
adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan dari orang tua dan memaksa
penderitanya menjalani transfusi darah seumur hidup. Tragisnya, jika dua
pembawa sifat menikah, peluang anak mereka menderita talasemia mayor sangat
besar. Karena itu, skrining menjadi kunci penting untuk memutus mata rantai
penyakit ini.
“Program
skrining talasemia ini akan dilakukan gratis. Padahal biasanya biaya skrining
bisa mencapai Rp550 ribu,†kata Kepala Dinas Kesehatan Batang Didiet
Wisnuhardanto, saat ditemui di Kantornya, Senin (5/5/2025).
Namun,
pelaksanaan skrining masih menunggu kiriman alat dan bahan dari Kementerian
Kesehatan. “Alatnya ada foto meter dan Hematoanalyzer, beberapa Puskesmas kita
sudah memilikinya. Tapi bahan medis habis pakai seperti reagent masih menunggu
dari Kemenkes,†jelasnya.
Sebagai
langkah awal, Puskesmas akan melakukan skrining anemia terlebih dahulu
menggunakan rapid test hemoglobin (HB). Jika ditemukan indikasi anemia, maka
akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan menggunakan alat laboratorium.
“Yang
menarik, sasaran utama dari skrining ini adalah anak-anak kelas 7 SMP. Program
ini terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar setiap
tahun ajaran baru,†ungkapnya.
Menurut
Didiet, kelas 7 dipilih karena pada usia ini informasi mengenai status
kesehatan anak lebih akurat untuk dilakukan intervensi dini. Informasi dari
Kemenkes, paling efektif memang dilakukan pada anak kelas 7. Karena itu, nanti
pihak Puskesmas akan datang langsung ke sekolah atau jemput bola.
“Tidak
hanya anak SMP, ke depan skrining juga akan menyasar anak-anak usia 6 tahun.
Prosesnya pun sudah terintegrasi dengan sistem digital. Hasil laboratorium akan
muncul dalam bentuk rapor kesehatan yang dikirim ke orang tua atau wali murid
melalui nomor WhatsApp, NIK, maupun kontak guru sekolah,†terangnya.
Didiet
menyebutkan, kalau ada kendala NIK atau KTP, nanti kita tetap bisa terbitkan
rapornya. Nomor telepon orang tua atau guru akan digunakan untuk mengirimkan
hasilnya. Dinas Kesehatan juga sedang menghitung berapa jumlah siswa yang akan
menjadi sasaran awal program ini dari total 21 Puskesmas yang tersebar di
Kabupaten Batang.
Data
awal skrining anemia akan menjadi dasar untuk menentukan siapa saja yang perlu
dilakukan pemeriksaan lanjutan.
“Kita
mulai dulu dengan rapid-nya. Kalau dari situ ketahuan anemia, langsung lanjut
dengan pemeriksaan darah lengkap saat reagent datang. Lewat program ini,
Kabupaten Batang bergerak serius dalam upaya mencegah lahirnya generasi baru
penderita talasemia. Deteksi dini adalah langkah kecil, tapi dampaknya bisa
menyelamatkan masa depan ribuan anak,†tegasnya.
Sementara
itu, Ketua Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Batang
Nety Widjayanti membuka, fakta bahwa hingga kini sudah ada 41 penyandang
talasemia yang terdata di wilayahnya. Dari jumlah itu, 27 merupakan anak-anak,
sementara 14 sisanya adalah orang dewasa.
Namun,
ia menegaskan bahwa angka itu belum mencerminkan kondisi yang sesungguhnya.
Data tersebut bukan menjadi rujukan karena kasus talasemia ini merupakan
fenomena gunung es.
“Fenomena
gunung es yang dimaksud adalah banyaknya kasus talasemia yang belum terdeteksi.
Sebagian masyarakat mungkin belum menyadari bahwa mereka membawa gen pembawa
talasemia, sehingga risiko menikah sesama pembawa sifat sangat besar dan
berpotensi melahirkan anak dengan talasemia mayor,†tuturnya.
Wilayah
dengan jumlah penyandang terbanyak saat ini adalah Kecamatan Bandar, dengan
total 12 orang. Sisanya tersebar di 14 kecamatan lainnya di Kabupaten Batang.
Di
tengah kenyataan tersebut, Nety menyambut baik langkah pemerintah yang
meluncurkan program skrining talasemia secara massal dan gratis melalui
Puskesmas. Ia menyebut langkah itu sebagai harapan baru bagi generasi
mendatang.
“Saya
sangat mengapresiasi program skrining talasemia yang digagas pemerintah, karena
ini adalah upaya konkret untuk mendeteksi dini dan memutus mata rantai
talasemia,†ujar dia.
Melalui
skrining ini, diharapkan tidak ada lagi pasangan yang tidak menyadari bahwa
mereka sama-sama pembawa sifat talasemia. Sehingga ke depan, keputusan untuk
menikah pun bisa diambil dengan informasi kesehatan yang lengkap dan tepat.
“Langkah
ini bukan hanya soal kesehatan, tapi soal masa depan. Masa depan anak-anak yang
seharusnya bisa bermain dan belajar tanpa harus bergantung pada transfusi darah
seumur hidup,†pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)