Batang - Potensi kopi khas Batang yang menggiurkan, mulai diperkenalkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Batang Faelasufa Faiz, ke pasar dengan jangkauan lebih luas. Pemetaan terhadap kopi berkualitas perlu diintensifkan, agar produk olahannya nanti menemukan pangsa pasar dan konsumennya.
Batang - Potensi kopi khas Batang yang menggiurkan, mulai diperkenalkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Batang Faelasufa Faiz, ke pasar dengan jangkauan lebih luas. Pemetaan terhadap kopi berkualitas perlu diintensifkan, agar produk olahannya nanti menemukan pangsa pasar dan konsumennya.
Dari
hasil pantauan langsung ke petani, Faelasufa menekankan agar produk kopi khas
Batang dikenal oleh konsumen nasional dengan upaya pembinaan bagi jenis yang
berpotensi besar.
“Apapun
jenis kopinya, entah Surjo atau Tombo yang jelas dari Batang,” katanya, saat
ditemui di Rumah Dinas Bupati Batang, Kabupaten Batang, Sabtu (3/5/2025).
Ia
menyayangkan karena selama ini kopi khas Batang harus dijual ke luar daerah
terlebih dahulu, agar sampai ke penikmatnya. Sayangnya, pasar itu tahunya
adalah kopi dari daerah lain, bukan dari Batang.
Sebagai
upaya nyata, Pemda akan mengoptimalkan dalam pembinaan bagi kopi berpotensi,
namun belum mendapatkan perhatian dari pasar.
“Tujuannya
supaya green bean yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar dan perlu sentralisasi
pascapanen, agar tercipta standarisasi kualitas, sebelum sampai ke tangan
penikmatnya,” tegasnya.
Pendiri
Java Kirana, M. Noverian Aditya membenarkan, penting sentralisasi dalam
pemantauan kualitas produk, sehingga di antara petani pun tidak akan ada
ketimpangan sosial. Pola ini membantu para produsen menemukan kopi berkualitas
sesuai selera pasar dan harga yang bersaing.
“Nantinya,
kopi Batang lebih bisa dikenal dan mampu bersaing, baik kualitas maupun
pamornya di pasaran,” jelasnya.
Sementara
itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang Sutadi menerangkan,
selama ini pihaknya telah intens melakukan pembinaan kepada petani.
“Nantinya
akan lebih memaksimalkan pembinaan saat pascapanen, dengan memperhatikan skala
prioritas,” terangnya.
Perwakilan
Batang Coffee, Ma'ruf mengatakan, sebanyak 3 ribu petani telah dibina dan mampu
menghasilkan 2 ribu ton kopi, namun masih menemukan kendala karena petani
menjualnya secara mandiri.
“Walaupun
hasil panen petani banyak, tapi lebih dari 50 persen, kopi kami diambil
produsen Temanggung,” ujar dia.
Di
sisi lain, ia mengakui, hasil panen beberapa waktu ini, mengalami penurunan
karena faktor cuaca yang tidak menentu. Yang sangat disayangkan kami harus
berpacu dengan pencuri kopi, bahkan harus menyewa penjaga kebun agar tidak
dicuri menjelang panen.
Ia
mengharapkan, Pemda lebih mengintensifkan pembinaan kepada para petani agar
menghasilkan kualitas dan harga yang layak.
“Selama ini kami lebih cenderung bergerak secara mandiri untuk membina petani Tombo, bahkan pembinaan kami sudah menjangkau luar daerah,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)